Diarsipkan di bawah: umum
Sukyatno Nugroho
JURAGAN ES TELER 77 DARI PEKALONGAN SUKYATNO Nugroho (55), lelaki kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, yang merintis usaha waralaba Es Teler 77 dari bawah, kini berbangga hati. Es Teler 77 memiliki 230 cabang waralaba di berbagai kota di nusantara, termasuk di Singapura, Malaysia, dan Australia.Sukyatno membesarkan usahanya, terjun sendiri ke lapangan. Bersama mertuanya, Ny Murniati Widjaja yang pernah meraih juara membuat es teler tahun 1982, Sukyatno dan istrinya, Yenny, mengawali usahanya di tenda sederhana bermodal awal tak lebih dari Rp 1 juta.Pagi-pagi sekali, dia berburu nangka dan alpukat di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dan di Bogor. Lokasi warung tenda tiga meter x 50 meter itu di pelataran pertokoan Duta Merlin di Jakarta Pusat.Kursinya, ya tong-tong bekas. Kalau hujan turun, tempat dagang kami kebanjiran, cerita Sukyatno Nugroho kepada Kompas belum lama ini. Kesulitan awal yang dihadapi Sukyatno ketika merintis Es Teler 77 saat diusir dari Duta Merlin. Tapi Sukyatno tak putus asa. Dia mencari lokasi baru, di Jalan Pembangunan dan Jalan Lombok. Di sini, Es Teler 77 makin dikenal dan kian populer.Tahun 1994, dia memindahkan lokasi Es Teler 77 dari tenda depan halaman rumah orang ke mal dan tahun 1997, dia melakukan standarisasi.Tahun 1998, Sukyatno bercita-cita memiliki cabang di luar negeri. “Saya mulai di Singapura. Saya buka di Joo Chiat Road. Hari pertama, saya pesan nangka dari Pasar Pasirpanjang, pasar induk di Singapura. Saya naik taksi, beli, dan belah nangka sendiri, pakai celana pendek,”ungkapnya.Dia melakukan riset sendiri. “Di Hyatt Singapura, ada orang Indonesia yang mengenali saya dan bertanya, ælho kok bos turun sendiri menyebarkan pamflet,” ceritanya.Dia melihat peluang dan jeli memanfaatkannya. “Hari Minggu ada puluhan ribu PRT Indonesia di Marina Square. Mereka tak sanggup makan di mal. Tanggapannya bagus. Saya buka cabang lagi di Far East Plaza dan Citiplaza,”kata Sukyatno.Sukses di Singapura, Sukyatno merambah ke Pulau Penang, Malaysia, dan di Swanston Street di jantung kota Melbourne, Australia.Lelaki Pekalongan ini selalu kreatif mencari yang unik. Dia tak malu untuk turun sendiri. Kini putra-putri keluarga Sukyatno yang memegang kendali. Andrew, lulusan MBA di Melbourne, yang mengendalikan Es Teler 77, sedangkan Felicia membuka Cilantro, resto tertinggi di Indonesia, di Wisma 46, Kota BNI.Sebuah contoh bagaimana pengusaha mempersiapkan generasi keduanya agar usaha tetap eksis dan bertahan dalam kompetisi bisnis yang kian ketat.
Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan sebuah tanggapan
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>